Buah Merah Papua Ampuh Sebagai Obat HIV/AIDS

Buah merah papua yang bisa menyembuhkan penyakit mematikan HIV AIDS. Apa kelebihan buah merah sehingga bisa sebagai obat HIV AIDS yang ampuh? Untuk mengetahui jawabannya silahkan baca artikel ini hingga selesai.

Tentang HIV AIDS merupakan virus yang menyerang sistem kekebalan tubuh manusia yang mengakibatkan mudah terserang penyakit lain, dikarenakan sistem kekebalan tubuh berfungsi untuk melindungi tubuh dari berbagai jenis penyakit yang menyerang. Salah satu unsur yang penting dalam sistem kekebalan tubuh adalah sel CD4 (jenis sel darah putih). Namun sel CD4 akan dibunuh oleh HIV saat menggandakan diri dalam darah. Semakin lama terinfeksi HIV, semakin banyak sel CD4 dibunuh, sehingga jumlah sel tersebut akan semakin rendah.

HIV bersembunyi di dalam sel-sel tubuh, begitu juga dengan mikro-organisme yang menyebabkan infeksi AIDS. Sel-sel yang terinfeksi ini tampak tidak normal bagi sistem kekebalan tubuh, sehingga sistem kekebalan tubuh akan melawan infeksi dengan cara menghancurkan sel-sel yang abnormal. Seperti halnya menghancurkan sel-sel kanker yang abnormal, sitem kekebalan tubuh juga menggunakan pendekatan yang sama untuk menghancurkan sel-sel abnormal yang terinfeksi HIV maupun mikro-organisme. Penghancuran sel abnormal diarahkan oleh sistem kekebalan tubuh yang disebut sel dimediasi.

Sel dimediasi yang dimaksud termasuk sel CD4, sel CD8, serta sel-sel pembunuh alami yang bekerja sama dengan protein kekebalan seperti IL-2, IFN-gamma, dan TNF-alpha. Jadi obat herbal yang dibutuhkan adalah yang bisa meningkatkan imunitas dari sel-sel dimediasi tersebut.

Oleh karena itu, kesehatan sistem kekebalan tubuh ODHA dapat dinilai dengan mengukur jumlah selCD4. Pada orang yang terinfeksi HIV, kadar sel CD4 normal berkisar antara 500 dan 1.500. Setelah terinfeksi HIV, jumlah ini akan mulai menurun.

Gejala Penyakit HIV Dan AIDS

Infeksi HIV muncul dalam tiga tahap. Tahap Pertama Gejala awal HIV adalah serokonversi (Periode waktu tertentu di mana antibodi HIV sudah mulai berkembang untuk melawan virus.). Tahap kedua adalah masa ketika tidak ada gejala yang muncul. Dan tahap yang ketiga adalah infeksi HIV berubah menjadi AIDS.

Tahap Pertama
Gejala awal aids, HIV akan menderita sakit mirip seperti flu. Setelah ini, HIV tidak menimbulkan gejala apa pun selama beberapa tahun. Gejala seperti flu ini akan muncul beberapa minggu setelah terinfeksi. Masa waktu inilah yang sering disebut sebagai serokonversi.
Diperkirakan, sekitar 8 dari 10 orang yang terinfeksi HIV mengalami ini. Gejala yang paling umum terjadi adalah:

  • Tenggorokan sakit
  • Demam
  • Muncul ruam di tubuh, biasanya tidak gatal
  • Pembengkakan noda limfa
  • Penurunan berat badan
  • Diare
  • Kelelahan
  • Nyeri persendian
  • Nyeri otot

Gejala-gejala di atas bisa bertahan selama satu hingga dua bulan, atau bahkan lebih lama. Ini adalah pertanda sistem kekebalan tubuh sedang melawan virus. Tapi, gejala tersebut bisa disebabkan oleh penyakit selain HIV. Kondisi ini tidak semata-mata karena terinfeksi HIV.

Lakukan tes HIV jika Anda merasa berisiko terinfeksi atau ketika muncul gejala yang disebutkan di atas. Tapi perlu diingat, tidak semua orang mengalami gejala sama seperti yang disebutkan di atas. Jika merasa telah melakukan sesuatu yang membuat Anda berisiko terinfeksi, kunjungi klinik atau rumah sakit terdekat untuk menjalani tes HIV.

Tahap Kedua
Setelah gejala awal HIV AIDS menghilang, biasanya HIV tidak menimbulkan gejala lebih lanjut selama bertahun-tahun (masa jendela). Ini adalah tahapan ketika infeksi HIV berlangsung tanpa menimbulkan gejala. Virus yang ada terus menyebar dan merusak sistem kekebalan tubuh. Pada tahapan ini, Anda akan merasa sehat dan tidak ada masalah. Kita mungkin tidak menyadari sudah mengidap HIV, tapi kita sudah bisa menularkan infeksi ini pada orang lain. Lama tahapan ini bisa berjalan sekitar 10 tahun atau bahkan bisa lebih.

Tahap Ketiga atau Tahap Terakhir Infeksi HIV
Jika tidak ditangani, HIV akan melemahkan kemampuan tubuh dalam melawan infeksi. Dengan kondisi ini, Anda akan lebih mudah terserang penyakit serius. Tahap akhir ini lebih dikenal sebagai AIDS (Acquired Immune Deficiency Syndrome). Berikut ini adalah gejala yang muncul pada infeksi HIV tahap terakhir:

  • Noda limfa atau kelenjar getah bening membengkak pada bagian leher dan pangkal paha.
  • Demam yang berlangsung lebih dari 10 hari.
  • Merasa kelelahan hampir setiap saat.
  • Berkeringat pada malam hari.
  • Berat badan turun tanpa diketahui penyebabnya.
  • Bintik-bintik ungu yang tidak hilang pada kulit.
  • Sesak napas.
  • Diare yang parah dan berkelanjutan.
  • Infeksi jamur pada mulut, tenggorokan, atau vagina.
  • Mudah memar atau berdarah tanpa sebab.
  • Risiko terkena penyakit yang mematikan akan meningkat pada tahap ini.

Cara Pencegahan / Menghindari HIV Dan AIDS

Tidak ada vaksin untuk mencegah HIV dan tidak ada obat untuk AIDS, tapi Anda bisa melindungi diri agar tidak terinfeksi. Satu-satunya cara untuk mencegah terinfeksi HIV adalah dengan menghindari kegiatan yang meningkatkan risiko tertular HIV. Pada dasarnya, mencegah selalu lebih baik daripada mengobati.

Cara-cara yang paling umum untuk terinfeksi HIV adalah berhubungan seks tanpa kondom, dan berbagi jarum atau alat suntik lainnya. Jika Anda terinfeksi HIV, Anda bisa menularkannya dengan cara-cara tersebut. Jika kedua pasangan terinfeksi, tetap lakukan hubungan seks yang aman. Anda bisa tertular jenis virus HIV lain yang mungkin tidak bisa dikendalikan oleh obat-obatan yang Anda konsumsi.

Melalui Hubungan Seks
Risiko tertinggi infeksi HIV ditularkan melalui hubungan seks tanpa kondom melalui vagina maupun anal. Risiko tertular melalui seks oral cukup rendah, tapi bukan berarti nol. Seks oral bisa menularkan penyakit Infeksi Menular Seksual lain seperti sifilis. Mainan dan alat bantu seks juga berisiko dalam menyebarkan HIV jika salah satu pengguna mainan dan alat bantu seks ini positif terinfeksi HIV.
Cara terbaik untuk mencegah HIV dan infeksi menular seksual (IMS) lainnya adalah dengan memakai kondom untuk segala jenis penetrasi seks. Dan gunakan dental dam untuk melakukan seks oral. Dental dam adalah selembar kain berbahan lateks. Kain ini berfungsi sebagai penghalang antara mulut dan vagina atau anus. Hal ini bertujuan untuk menurunkan penyebaran IMS selama melakukan seks oral.

Mengonsumsi obat Truvada
Bagi orang-orang yang berisiko tinggi terinfeksi virus HIV, mengonsumsi obat emtricitabine-tenofovir (Truvada) bisa mengurangi risiko infeksi HIV melalui hubungan seksual. Truvada juga digunakan pada perawatan HIV bersamaan dengan obat-obatan lainnya.

Pemakaian kondom
Jika Anda tidak tahu status infeksi HIV pasangan, maka selalu gunakan kondom baru tiap melakukan hubungan seks anal maupun seks vaginal. Kondom tersedia dalam berbagai bentuk, warna, tekstur, bahan, dan rasa yang berbeda. Kondom tersedia baik untuk pria maupun wanita.
Kondom adalah bentuk perlindungan paling efektif melawan HIV dan Infeksi Menular Seksual lainnya. Kondom bisa digunakan untuk hubungan seks apa pun. Sangat penting untuk memakai kondom sebelum kontak seksual apa pun yang muncul antara penis, vagina, mulut, atau anus. HIV bisa ditularkan sebelum terjadi ejakulasi. Ini terjadi ketika keluarnya cairan awal dari alat kelamin dan dari anus.

Gunakan kondom yang berbahan lateks atau poliuretan (latex and polyurethane) ketika melakukan hubungan seks. Gunakan kondom begitu Anda atau pasangan mengalami ereksi, bukan sebelum ejakulasi.

Pemakaian pelumas
Pelumas digunakan untuk menambah kenyamanan dan keamanan hubungan seks dengan tujuan menambah kelembapan pada vagina maupun anus selama seks. Pelumas akan mengurangi risiko terjadinya kulit luka (sobek) pada vagina atau anus. Pelumas juga mencegah agar kondom tidak sobek.
Hanya gunakan pelumas yang berbahan dasar air, bukan yang berbahan minyak. Pelumas yang berbahan minyak bisa melemahkan kekuatan kondom dan bahkan bisa merobek kondom.

Melalui Jarum dan Suntikan
Jika Anda memakai jarum untuk menyuntikkan obat, pastikan jarumnya steril. Jangan berbagi jarum, suntikan, atau perlengkapan menyuntik lagi seperti spon dan kain. Berbagi jarum bisa meningkatkan risiko terinfeksi HIV dan virus lain yang ada di dalam darah, misalnya hepatitis C. Jika Anda ingin membuat tato atau tindik, pastikan selalu memakai jarum yang steril dan bersih. Jangan melakukan aktivitas ini di tempat sembarangan. Pastikan Anda memeriksa jarum yang digunakan.

Melakukan sunat bagi pria
Sunat pada pria adalah prosedur pembedahan untuk memotong kulit di bagian ujung penis. Sunat yang dilakukan pada kelamin pria mampu mengurangi risiko pria terkena HIV.

Penemuan Pengobatan HIV AIDS Terbaru Dengan Buah Merah Papua

Meskipun belum ada penelitian secara medis mengenai buah merah papua yang panjangnya semeter dan beratnya 15 kg, namun masyarakat Papua khusus Kab. Wamena yang dikonsumsi oleh penderita HIV/AIDS bisa merasakan perubahan yang signifikan sehingga kondisi kesehatannya semakin membaik, walau belum dinyatakan sembuh total.

Dosen Universitas Cendrawasih itu mengamati secara sakasama kebiasaan masyarakat tersebut yang mengonsumsi buah merah itu, ternyata masyarakat sekitar selain tidak mengidap HIV/AIDS juga jarang terkena penyakit hepatitis, kanker, jantung dan hipertensi. ” Saat itu saya menduga, jarangnya penyakit yang diderita masyarakat Wamena pasti berhubungan dengan buah itu,” ujar Made.

Setelah meneliti beberapa lama, ternyata buah merah itu banyak mengandung Antioksidan, Betakarotin, Omega 3 dan 9, serta banyak zat lain yang meningkatkan daya tahan tubuh. “Kemudian saya melakukan percobaan kepada 30 unggas karena virus yang berbahaya tersebut itu sedang menyerang unggas, ” ujar Made yang menyelesaikan S-2 bidang gizi masyarakat di Institut Pertanian Bogor (IPB).

Semula ahli gizi dari Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (Mipa) itu hanya ingin mengungkap kandungan gizi buah tersebut, namun akhirnya ia mencoba juga meneliti, apakah bisa untuk menangkal HIV AIDS . Ternyata dari hasil analisis, kandungan kimiawi buah merah itu dapat yang mengilhami Made untuk menjadikan sebagai obat. Buah merah itu mengandung zat gizi bermanfaat dalam kadar tinggi. Di antaranya Betakatoren, Tokoferol, asam oleat, asam linoleat, asam linolenat, dan dekanoat. Semuanya merupakan senyawa obat aktif.

Betakaroten berfungsi memperlambat berlangsungnya penumpukan flek pada arteri. Jadi aliran darah ke jantung dan otak berlangsung tanpa sumbatan. Interaksinya dengan protein meningkatkan produksi antibodi. Ini meningkatkan jumlah sel pembunuh alami dan memperbanyak aktifitas sel T Helpers dan limposit. Suatu studi membuktikan konsumsi betakaroten 30 – 60mg/hari selama 2 bulan membuat tubuh memiliki sel-sel pembunuh alami terbanyak. bertambahnya sel-sel pembunuh alami itu menekan kehadiran sel-sel kanker. Mereka ampuh menetralisir radikal bebas senyawa karsinogen, penyebab kanker.

Peran buah merah lainnya yaitu sebagai antikarsinogen yang makin lengkap dengan kehadiran tokoferol. Senyawa ini berperan dalam memperbaiki sistem kekebalan tubuh yang menjadi sasaran HIV AIDS.

Buah merah sebagai obat herbal HIV AIDS yang mengandung Omega 3 dan 9 dalam dosis tinggi itu sebagai asam lemak tak jenuh. ia gampang dicerna dan diserap sehingga memperlancar metabolisme. Lancarnya metabolisme sangat membantu proses penyembuhan. Sebab, tubuh mendapat asupan protein yang mampu meningkatkan daya tahan tubuh.

Asam lemak yang dikandung buah merah juga merupakan antibiotik dan antivirus. Mereka aktif melemahkan dan meluruhkan membran lipida virus serta mematikannya. Bahkan virus tidak diberi kesempatan untuk membangun struktur baru sehingga tak bisa melakukan regenerasi. Karena kemampuan itu, ia efektif menghambat dan membunuh beragam strain HIV AIDS, termasuk virus hepatitis yang merusak sel hati. Ia juga terbukti menghambat dan membunuh sel-sel tumor aktif.

8 Tujuan Pengobatan HIV AIDS Dengan Buah Merah papua

  1. Menenekan pertumbuhan HIV
  2. Menghambat replikasi HIV
  3. Menurunkan jumlah HIV dalam darah
  4. Menumpas HIV secara bertahap serta mencegah berlanjutnya infeksi HIV menuju AIDS
  5. Meningkatkan kekebalan tubuh / imunitas tubuh penderita AIDS
  6. Menghentikan virus merusak sistem kekebalan tubuh
  7. Mencegah masuknya mikroorganisme pemicu infeksi sekunder
  8. Menumpas HIV sampai tuntas

Setelah mengkonsumsi buah merah papua selama 1 bulan biasanya  sudah mengalami perkembangan seperti :

  • Peningkatan CD4
  • Meningkatnya stamina dan energi
  • Jumlah virus dalam darah berkurang saat tes viral load
  • Pengurangan gejala penyakit dan peningkatan berat badan

Ketika perkembangan mulai dirasakan pada bulan pertama pengobatan, maka HARAPAN KESEMBUHAN Penderita HIV AIDS semakin besar

Harga minyak buah merah Rp 260.000

Testimoni Buah Merah Papua Sembuh Dari HIV AIDS

Drs. I Made Budi MSi., mengatakan kepada beberapa media massa, seorang pengidap HIV AIDS yang bernama Agustina (22) mengalami perubahan kesehatan. Berat badannya semula 27 kg, karena terserang virus yang belum ada obatnya itu, namun setelah mengonsumsi sari buah merah, naik menjadi 42 kg.
Awalnya, Agustina yang mengidap HIV/AIDS dibawa Yayasan Pengembangan Kesehatan Masayarakat (YKPM) Papua kepada I made Budi yang sedang meneliti buah itu. YKPM Papua yang mengetahui adanya sari buah merah yang dapat merekondisi kesehatan penderita HIV/AIDS meminta I Made Budi untuk meminum sari buah merah kepada Agustina.

Setelah beberapa lama Agustina meminum sari buah merah, ia merasa lebih baik. Gejala diare berat dan sariawan yang muncul jika mengidap HIV AIDS hilang. Ia merasa segar dan bisa melakukan kegiatan sehari-hari, bak orang sehat.

Agustina Sawery Sembuh HIV AIDS Berkat Buah Merah
Karena dihimpit kemiskinan, Agustina Sawery terpaksa menjadi seorang pekerja seks komersial. Pekerjaan ini menyebabkan Agustina terkena penyakit AIDS. Hal ini diketahuinya setelah pada bulan Desember 2003, dirinya divonis menderita AIDS oleh dokter.

Perempuan yang baru berusia 23 tahun ini tubuhnya menjadi kurus kering, hanya tersisa tulang dibalut kulit. Berat tubuhnya turun dari sebelumnya 50 kilogram lebih menjadi hanya 27 kilogram. Dia juga mengalami infeksi anus, gangguan fungsi hati, mulut bercendawan dan infeksi paru-paru. Semua penyakit itu diakibatkan kekebalan tubuhnya dirontokkan oleh virus HIV penyebab AIDS.

Sejak itu Agustina dirawat selama tiga bulan di RSUD Jayapura. Karena fungsi hati rusak, ia tak dapat menelan obat dan makanan apapun, oleh karena itu ia bergantung hanya pada infus. Melalui Yayasan Pengembangan Kesehatan Masyarakat, ia dipertemukan dengan Drs. I Made Budi MS. Sejak April 2004, Agustina mengkonsumsi ekstrak buah merah pemberian Made.

Perlahan-lahan kondisi Agustina membaik. Tiga bulan mengkonsumsi ekstrak buah merah papua, berat tubuhnya pulih menjadi 46 kilogram. Selain itu wajahnya menjadi lebih ceria dan sorot matanya semakin bersinar. Kulitnya yang semula busik kembali mulus. Rambutnya yang tadinya rontok tumbuh kembali. Singkat kata, Agustina menjadi lebih bugar. Padalah sebelumnya, menurut kesaksian Made, kondisinya sudah sangat parah dan tak ada lagi harapan.

Tunggu Apalagi, beli sekarang juga…

format pemesanan: Nama dan Alamat Lengkap / Nama Produk / Jumlah.

Kirim BBM / SMS / WA :

PIN BB :2B717B3E
SMS /WA : 08985949355

Jaminan GARANSI dan TERPERCAYA.

Leave a Comment