Mempersiapkan Biaya Haji Plus Dan Biaya Haji Reguler

Rasanya hampir semua umat Islam setuju: berangkat haji bukan cuma perkara niat. Mampu tak mampu, sebisa mungkin, niat yang satu ini dapat dituntaskan. Banyak yang begitu mendamba, sekalipun harus mengeluarkan uang dalam jumlah besar untuk untuk pergi ke Tanah Suci. Bagi mereka yang mampu, tentu mudah saja. Namun, bagaimana dengan yang tidak?

Menabung menjadi salah satu kuncinya. Namun, cara itu pun kerap tak efektif—karena besarnya dana yang harus disiapkan dan dikeluarkan sekaligus. Belum lagi, soal perintilan yang harus dipenuhi, mulai dari biaya pengajian, pakaian dan perlengkapan, dana darurat, biaya oleh-oleh, hingga kemungkinan biaya haji yang terus-menerus naik tiap tahunnya. Tanpa konsistensi, bisa saja biaya untuk mencukupi segala kebutuhan, justru tak kunjung terpenuhi.

Cara lain pun dipilih untuk menyiasati pembayaran biaya haji yang tergolong besar, yaitu dengan tabungan haji. Konsepnya sebetulnya sama seperti mencicil. Anda akan “dipaksa” menyetorkan uang dalam jumlah tertentu, hingga nilainya cukup untuk ongkos naik haji (biasanya ditetapkan dalam jangka waktu tertentu pula). Cara ini sendiri dinilai lebih aman dan tidak memberatkan calon jemaah haji (meskipun memiliki penghasilan yang terbilang pas-pasan).

Namun, harus diketahui, mempersiapkan keberangkatan haji sendiri bukan cuma soal biaya. Berikut ini adalah beberapa hal yang harus Anda perhatikan dalam mempersiapkan ibadah haji.

Tabungan Haji Menghitung Biaya Haji Plus Dan Biaya Haji Reguler

Telah disebutkan sebelumnya, adanya inflasi memungkinkan biaya haji cenderung naik tiap tahunnya. Biaya itu sendiri mencakup beragam keperluan di Tanah Suci, seperti harga tiket pesawat dan akomodasi, pajak, pelayanan calon jemaah, konsumsi, hingga uang saku. Harus diingat, harga/angka yang harus disiapkan di sini tidak selalu sama—bergantung pada daerah pemberangkatan, serta jasa pelayanan yang digunakan.

Ongkos naik haji adalah satu hal. Di luar itu, ada pula beberapa biaya yang harus dipertimbangkan (indirrect cost). Pada umumnya, mereka yang memilih mempersiapkan biaya haji dengan menggunakan fasilitas tabungan haji akan lebih tenang—sebab indirrect cost akan ditanggung oleh pihak bank.

Jenis-jenis Tabungan Haji Untuk Biaya Haji Plus Dan Haji Reguler

Ada dua tipe biaya haji yang bisa Anda gunakan—selanjutnya disingkat ONH, yakni Biaya Haji Reguler dan Biaya Haji Plus. Apa sajakah perbedaannya?

Dari segi biaya, memilih Biaya Haji Plus—mengharuskan Anda membayar biaya dua kali lipat lebih mahal ketimbang Biaya Haji Reguler. Tentu saja, biaya tersebut berbanding lurus dengan fasilitas-fasilitas lain yang bisa Anda dapatkan—seperti biaya kebutuhan selama di Tanah Suci (akomodasi dan konsumsi); fasilitas pemondokan yang berjarak lebih dekat (sehingga Anda lebih mudah mencapai lokasi-lokasi penting); masa tunggu dalam ibadah haji (20 hari), dan fasilitas lainnya.

Namun, bila dana Anda terbatas, disarankan untuk tidak memaksakan diri menggunakan ONH Plus. Perhatikan lagi kondisi dan kemampuan keuangan Anda. Toh, dengan ONH Reguler pun Anda tetap bisa menjadi haji yang mabrur, bukan?

Memilih Bank

Pastikan Anda mendatangi dan mengikuti program dari bank yang kompeten dan tepercaya. Memang, di Indonesia, tidak semua bank memiliki produk tabungan haji. Namun, Anda bisa memilih bank Syariah (Bank Mandiri Syariah, Bank BNI Syariah, Bank BRI Syariah, Bank Niaga Syariah, Bank Muamalat, dsb); bisa juga memilih bank konvensional yang juga punya divisi Syariah (Bank Mandiri, Bank BRI, Bank BNI, Bank Niaga, Bank DKI, dsb). Masing-masing tentu punya manfaat dan kelebihan yang ditawarkan, yang bisa dipertimbangkan dan disesuaikan terlebih dulu dengan kemampuan finansial Anda.

Adapun salah satu kelebihan dari program tabungan haji, adalah terhubung langsung dengan Sistem Komputerisasi Haji Terpadu (Siskohat) Kementrian Agama. Nah, dengan sistem ini, jika Anda sudah memenuhi syarat biaya—biasanya nama Anda akan langsung terdaftar dan mendapatkan nomor urut kursi haji. Memang, meski sudah mendapatkan nomor urut, Anda masih harus terus menabung. Namun setidaknya, Anda sudah memiliki kuota/jatah untuk naik haji—yang bila tidak disegerakan, bisa saja mencapai masa tunggu hingga lebih dari lima tahun.

Beberapa bank saat ini juga menyediakan fasilitas dana talangan. Dana talangan di sini—yakni semacam utang yang bisa dipinjam untuk membayar ONH. Sistemnya, Anda tinggal menyetorkan dana (minimal 30% dari total ONH), lalu bank akan menalangi sisanya sesuai kesepakatan. Dengan begitu, Anda bisa langsung mendapatkan jatah naik haji—meski sebelum berangkat, Anda diwajibkan untuk melunasi utang ini terlebih dulu.

Jumlah Setoran

Biasanya, tabungan haji berkisar pada nominal Rp25 juta. Jumlah ini, tentu saja bisa dicicil melalui setoran minimal yang ditetapkan oleh masing-masing bank. Namun, harus diingat, cepat-lambatnya setoran juga memengaruhi waktu dan nomor urut Anda berangkat haji.

Nah, sebagai biaya tambahan atau untuk berjaga-jaga, Anda juga bisa menentukan setoran tambahan; atau memanfaatkan instrumen investasi lainnya, seperti emas/saham/reksadana—tentunya setelah disesuaikan dengan kemampuan finansial Anda. Jangan lupa, hal paling penting di sini adalah kedisiplinan. Diperlukan komitmen tinggi saat menyetorkan dana setiap bulannya.  Untuk info lebih lengkap biaya Haji Pus di Arminareka Perdana bisa menghubungi WA/SMS : 089-859-493-55